Mengapa Anak Usia 2 Tahun Sangat Disarankan Untuk Bersekolah? - Saint Monica

Mengapa Anak Usia 2 Tahun Sangat Disarankan Untuk Bersekolah?

Anak yang cerdas adalah impian semua orangtua. Untuk dapat mengasah kecerdasan anak sejak kecil, maka diperlukan latihan atau kegiatan yang mampu memberikan stimulasi atau merangsang kemampuan dasarnya.

Golden age: usia penting dalam pendidikan anak usia dini
Ketika anak-anak masih kecil, mereka memiliki kemampuan belajar seperti layaknya spons. Setiap pengalaman baru, setiap kata yang mereka pelajari, setiap perilaku yang mereka adopsi adalah investasi untuk masa depan yang lebih bermanfaat.

 

Seperti yang disampaikan dalam Sensory Pyramid of Learning, sistem saraf pusat anak terkait erat dengan sistem sensorik mereka.

Pengembangan sistem sensorik yang memadai (dari sistem sentuhan, vestibular, proprioseptif, penciuman, visual, auditori, dan gustatory) akan mendukung perkembangan motorik perseptual anak, termasuk koordinasi mata-tangan, kontrol motorik okular, penyesuaian postural, keterampilan bahasa pendengaran, persepsi visual-spasial, dan fungsi pusat perhatian anak. Dan kemampuan sensorik dan motorik yang kuat ini akan membantu perkembangan kognitif anak, termasuk dalam hal berkomunikasi dan bersosialisasi.

Oleh karena itu, periode sejak anak lahir hingga kurang lebih usia 6 tahun dipercaya sebagai periode keemasan (golden age) di mana anak mengalami perkembangan yang pesat terutama dalam kecerdasan otak. Untuk membantu anak mencapai perkembangan otak yang maksimal, maka Anda dapat membantunya belajar melalui observasi, eksperimen, dan komunikasi dengan orang lain yang juga sangat penting sebagai fondasi utama bagi perkembangan anak di usia selanjutnya. Anda pun dapat membantunya berkembang dengan menyekolahkannya ke pendididan anak usia dini sejak usianya 2 tahun.

Jaman sekarang ini, banyak sekali ditemukan kasus-kasus anak dengan kebutuhan khusus dan SI (Sensory Integration). Kasus-kasus tersebut dapat terjadi kepada semua anak tanpa memilih latar belakang. Banyak sekali peneliti yang berusaha mencari tahu penyebabnya dan beberapa kesimpulan disebabkan mencari tahu penyebab era digital secara masif yang memudahkan akses anak terhadap penggunaan gadget, ditambah lagi kesibukan orang tua.

Anak kemudian minim aktivitas yang bersifat komunikasi 2 arah, sosialisasi, motorik stimulasi sehingga sensor-sensornya (Panca Indra) tidak dapat berfungsi dengan semestinya. Jika sensor tersebut terhambat perkembangannya ini akan menyebabkan pondasi dasar anak menjadi lemah. Inilah yang akan berimbas kepada kemampuan sensor motornya di umur 2-4 tahun.

Ciri-cirinya antara lain ada anak yang refleksinya kurang baik ketika dipanggil atau ada kejadian, lambat dalam berpikir, posisi duduk tidak baik, postur tubuh bungkuk/Ioyo, anak sering menabrak sesuatu, kurang dapat merencanakan gerakan tubuh, dsb.

Sensor motor yang bermasalah akan menyebabkan pondasi yang bahkan lebih rapuh lagi. Ini akan berimbas kepada pondasi tingkat selanjutnya, yaitu kemampuan perceptual motor atau persepsi gerak anak. Contoh-contoh anak yang terhambat perceptual motor-nya, yaitu anak sulit untuk memasukkan kunci ke lubangnya, sulit untuk menggunting dengan mengikuti garis, gerakan mata lemah, ketika berdiri tidak tegak, fokus kurang balk, sulit untuk mengerti perintah/instruksi, sulit untuk bercakap-cakap dan bersosialisasi karena pemahaman kalimat masih kurang pemahaman atas apa yang dilihat kurang baik, dsb.

Ketika 7 Panca Indra anak bermasalah dan berakibat pada lemahnya sensor motor anak dan mengakibatkan kemampuan pemahaman motor anak terhambat, maka yang terjadi selanjutnya adalah sebuah bencana bagi sang anak maupun orang tua dimana anak akan memiliki perilaku kemampuan akademis dan logika yang kurang balk dan berimbas kepada kegiatan sehari-sehari anak tersebut ini pada akhirnya dapat terlihat ketika anak mulai sekolah di tingkat SD.

Oleh sebab itu, Orang Tua harus memastikan bahwa anak-anak dimaksimalkan masa keseluruhan 7 Panca Indera, otak, dan prilaku sosial mereka. Sekolah sejak dini menjadi alternatif bagi orang tua yang bekerja maupun Ibu rumah tangga yang tidak mempunyai banyak waktu.

Pendidikan anak usia dini, perlukah?
Perkembangan zaman telah mengubah cara mendidik anak. Bagi Anda yang masih bingung atau ragu untuk menyekolahkan anak Anda yang berusia 1 tahun pada Pendidikan Anak Usia Dini, mari simak berbagai alasan mengapa Anda harus melakukannya.

  1. Mengenal konsep sekolah

Dengan menyekolahkan anak sejak usia 1 tahun (baby class), itu akan membantunya memahami konsep sekolah. Mulai dari cara bangun pagi, cara bersosialisasi, cara duduk dengan baik, hingga cara mendengarkan instruksi dari guru. Sekolah dengan konsep yang sesuai dengan pyramid of learning justru akan membuat anak percaya diri, bahagia, memiliki pondasi hidup yang mantap dan mematahkan kepercayaan bahwa sekolah sejak dini tidak ada gunanya.

  1. Golden age 0-6 years old

Seperti yang dijelaskan di atas, otak anak pada usia keemasan mereka, yaitu antara usia 0-6 tahun, memiliki daya serap yang kuat seperti spons. Untuk itu, sebagai orangtua, Anda perlu memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin untuk semaksimal mungkin mengasah kecerdasan anak melalui kegiatan belajar sambil bermain, sehingga hasilnya di umur 6 tahun hasil test IQ anak menjadi sangat baik.

  1. Mematangkan pondasi anak sesuai Sensory Pyramid of Learning di atas

Dalam Pyramid of Learning disebutkan bahwa setiap anak memiliki sistem saraf pusat yang terkait erat dengan sistem sensorik mereka. Dengan memiliki fondasi sistem sensorik yang memadai (dari sistem sentuhan, vestibular, proprioseptif, penciuman, visual, auditori, dan gustatory), maka itu akan mendukung perkembangan motorik perseptual anak, termasuk koordinasi mata-tangan, kontrol motorik okular, penyesuaian postural, keterampilan bahasa pendengaran, persepsi visual-spasial, dan fungsi pusat perhatian anak. Dengan menyekolahkan anak Anda sejak usia 2 tahun, sehingga perkembangan kognitif anak pun dapat bekerja dengan baik.

  1. Mengisi waktu luang

Dengan menyekolahkan anak sejak dini, anak bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk mengerjakan hal yang membantunya berkembang. Di sekolah, anak tidak hanya diajak belajar, tapi juga bermain. Dengan menggunakan pembelajaran menyenangkan Montessori berdasarkan kurikulum yang berpengalaman dan dapat dipercaya, Anda tidak perlu khawatir anak akan tertekan untuk selalu belajar.

Saint Monica Jakarta School dan Growing Mind Preschool
Sebagai salah satu sekolah Katolik bertaraf International di Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan senantiasa memberikan pengajaran Katolik bermutu tinggi dalam mewujudkan pemimpin sejati dengan poin holistik dalam aspek intelektual, emosi, spiritual, sosial, fisik, dan karakter, Saint Monica Jakarta School dan Growing Mind Preschool (sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Mulia Bakti) menyediakan Pendidikan Anak Usia Dini (pre-school) yang menyenangkan dengan metode pengajaran dan kurikulum yang tepat.

  • Metode Sensorial dan Pratical Life yang digunakan untuk membantu anak-anak belajar menggunakan semua inder
  • Glenn Doman, teknik Kartu Flash yang digunakan untuk meningkatkan kekuatan otak pada usia yang sangat dini
  • Pembelajaran Berbasis Proyek untuk pengembangan moral dan pemecahan masal
  • Metode Pembelajaran Berpikir Kritis untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi
  • Metode Learning by Doing digunakan untuk membantu anak-anak mengalami kehidupan nyata, eksplorasi, dan mendapatkan pengetahuan lebih cepat, lebih kuat, dan lebih dalam.
  • Metode Klasik bertujuan untuk membina anak dalam bidang akademik.
  • Pengiring Musik Klasik membantu merangsang otak kanan.

Artikel ditulis oleh Ms. Kristina Cynthia Pramita, B.bus, M. Si sebagai Curriculum Coordinator Yayasan Pendidikan Mulia Bakti.

Leave a Comment

Saint Monica Jakarta School © 2018 All Rights Reserved.

×
Hello, can we help you?